Jual Beli Valuta Asing Dalam Islam

Thursday, July 5th 2018. | Informasi Perbankan

Perdangangan komoditas antar negara memerlukan alat bayar yang disebut uang. Padahal setiap negara memiliki nilai mata uang masing-masing. Dari sinilah timbul suatu perbedaan nilai mata uang antar negara. Penyebab perbedaan tersebut tidak terlepas dari hukum permintaan dan penawaran diantara negara. Jual beli valuta asing atau valas kerap menjadi perdebatan. Misalnya hukum valuta asing dalam islam, bagaimanakah sebenarnya menurut beberapa lembaga seperti fatwa MUI maupun tokoh ahli dibidang tersebut.

Pada kesempatan kali kami akan memberikan beberapa rangkuman dari sumber mengenai valuta asing dalam islam. Hukum jual beli dalam islam pada intinya harus memenuhi syarat yang telah ditentukan. Sehingga jual beli yang dilakukan bisa dikatakan halal atau haram. Maka dari itu perlu bagi setiap penganut ajaran islam mempelajari bagaimana hukum jual beli yang sah. Indonesia mengenai hal ini terdapat ketetapan fatwa MUI tentang jual beli mata uang. Ulama sepakat bahwa akad jual beli mata uang disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu.

valuta asing dalam islam

Pandangan Jual Beli Valuta Asing Menurut Berbagai Kalangan

Meskipun terdapat fatwa resmi dari pemerintah mengenai jual beli valuta asing tetap saja ada beberapa pendapat yang berbeda. Misalnya saja di negara Malaysia yang mengharamkan jual beli valuta asing atau foreign exchange (forex) seluruhnya. Sikap pemerintah Indonesia dalam hal ini MUI tidak mengikuti negara tersebut. Menurut MUI ada empat jenis transaksi valuta asing di Indonesia. Tiga diantaranya ditetapkan dalam kategori haram sedangkan satu yang lainnya masih diperbolehkan. Mari kita simak menurut beberapa pandangan yang ada.

1. Haram Menurut Pandangan Majelis Ulama Indonesia

Majelis Ulama Indonesia memiliki fatwa tersendiri tentang halal dan haramnya mengenai jual beli valuta asing. Mengapa terdapat hukum diperbolehkan atau dilarangnya transaksi valas di Indonesia. Secara ringkas transaksi yang berlaku di Indonesia terdiri dari empat macam. Transaksi-transaksi tersebut adalah transaksi spot, forward, swap, dan option. Transaksi foward, swap, dan option dikategorikan haram.

Transaksi forward dinyatakan haram sebab terdapat unsur harga yang dipergunakan sesuai dengan perjanjian dan penyerahannya dilakukan dikemudian hari. Padahal harga pada waktu penyerahan belum tentu sama seperti dengan nilai yang telah disepakati. Begitupun dengan transaksi swap dan option. Keduanya berlaku hukum yang sama yaitu haram. Mengapa demikian, sebab kedua transaksi mengandung unsur spekulasi.

2. Halal Menurut Pandangan Majelis Ulama Indonesia

Ada beberapa hal yang menjadikan boleh atau tidaknya transaksi valuta asing. Dengan kata lain hukum transaksi valas yang diperbolehkan yaitu tidak terdapat unsur atau faktor yang mengharamkan. Faktor tersebut ialah tidak ada spekulasi atau untung-untungan, ada kebutuhan transaksi/untuk berjafa-jaga, dan transaksi dilakukan secara tunai. MUI memberikan fatwa bahwa transaksi valuta asing adalah halal, yaitu untuk transaksi spot.

READ  Mengapa Valuta Asing Termasuk dalam Kategori Devisa

Transaksi spot diperbolehkan dengan alasan transaksi pembelian dan penjualan valuta asing penyerahannya dilakukan pada saat itu. Adapun waktu penyelesaian paling lambat dua hari merupakan proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan bagian dari transaksi internasional.

3. Menurut Pandangan Muhammad Syamsudin (NU online)

Hukum transaksi via eletronik menurut Muktamar NU ke-32 di Makassar Tahun 2010 menyatakan boleh. Hal tersebut dapat dilakukan jika sesuai dengan beberapa unsur. Seperti barang yang diperdagangkan harus jelas menurut ciri dan sifatnya secara urfy. Mengenai kasus jual beli valuta asing online, maka nilai kurs yang diketahui oleh pihak penjual dan pembeli dalam pasar bursa valuta merupakan bagian dari ‘urfy. Menurutnya hukum barter valuta asing di pasaran tunai adalah boleh.

Kemudian melihat pada sistem perdagangan valuta asing di pasar online. Apakah sistem tersebut memenuhi rukun jual beli atau tidak. Transaksi jual beli dikatakan boleh jika barang yang diperjual belikan adalah barang yang bukan haram, tidak ada unsur menipu, menyembunyikan kecacatan barang, dan tidak mengandung unsur judi atau spekulatif.

Oleh karena itu terdapat beberapa hukum valuta asing dalam islam. Pertama Haram, jika harga tidak sesuai dengan saat pembeli memutuskan melakukan transaksi dengan saat transaksi tersebut diterima oleh penjual (broker). Kedua boleh, jika harga saat beli sama dengan saat diterimanya transaksi oleh penjual (broker).

4. Menurut Pandangan Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.

Jual beli mata uang asing dihukumi dengan hukum emas dan perak, dilakukan secara kontan/tunai, dan tanpa ada terutang sedikitpun. Demikian menurut beliau seperti dilansir pada pengusahamuslim(dot)com. Meskipun transaksi spot tergolong kedalam transaksi yang diperbolehkan oleh MUI, menurutnya ada hal yang tidak dapat diterima. Hal tersebut adalah jangka waktu penyelesaian selama dua hari.

Beliau mendasarkan pada hukum bahwa tidak dibenarkan untuk menunda walau hanya sekejap. Meskipun itu hanya sekadar masuk ke dalam rumah kemudian keluar rumah lagi. Apalagi di zaman sekarang teknologi serba canggih telah ada. Penundaan selama dua hari lebih layak untuk dilarang. Inilah menurutnya yang menyebabkan transaksi spot dikatakan haram.

Demikian pembahasan mengenai jual beli valuta asing dalam islam yang telah kami rangkum dari berbagai sumber. Hukum jual beli valuta asing dalam islam menurut beberapa pendapat lembaga maupun orang-perorangan berbeda-beda. Kita sebagai penganut ajaran islam boleh memilih mana-mana saja. Akan tetapi selalu ingat bahwa perbedaan selalu dan persatuan selalu diutamakan. Terimakasih.

tags: